Senin, 2 Juli 2012, pertandingan yang tertunda, laga terakhir Persib di kandang untuk musim ini, “Home Sweet Home”, rasanya tepat menggambarkan pertandingan sore itu. meskipun Sriwijaya FC lah yang telah dipastikan menjadi juara untuk musim ini namun Persib tidak ingin terduduk di posisi terbawah.
Pertanyaan besar mulai datang, kapan lagi Persib menjadi juara, pertanyaan itu selang beberapa menit sebelum insiden yang menimpa pewarta foto sore itu. Babak kedua, para fotografer berjejer tepat di depan Bobotoh Tribun Utara, hal yang tak dapat diduga, salah seorang dari fotografer terkena lemparan Mercon berwarna merah, tepat sekali menggeliat di bawah kaki salah satu kru BOTN. benda itu terlempar berasal dari jajaran Tribun Utara, mengenai kepala seorang fotografer dan nyaris melelehkan seragam tanda pers yang ia kenakan. Pewarta foto itu kesakitan bertekuk di tanah, hingga menarik perhatian pewarta foto lainnya. Marah, jelas, karena insiden itu sangat membahayakan keselamatan kami sebagai pencari berita.
Apa sebenarnya motivasi dibalik tindakan ini? Mengapa harus dilempar? Keraguan mulai muncul, seperti itukah sikap Bobotoh Persib?
Persib sebagai tim yang cukup hebat tentunya harus didukung dengan sikap Bobotoh yang teladan, “Nyunda, Nyakola”, bukankah itu yang sering diteriakkan?
Banyak sekali hal yang tak terduga sore itu, mulai dari perkelahian singkat di tribun utara yang berawal dari spanduk kecaman anti damai, pelemparan botol ke lapangan, hingga pelemparan mercon yang mengenai kepala seorang fotografer–dan semuanya itu ulah Bobotoh di tribun Utara.
Dalam tulisan ini, penulis dengan tegas mengajak dan terus mengingatkan agar perilaku Bobotoh dapat terus diperbaiki. Untuk ajakan macam ini apakah penulis terlalu kolot ? Ingat, fanatisme terhadap sepak bola itu menyenangkan–dalam hal yang positif kata ‘menyenangkan’ itu dapat dibenarkan, namun apabila fanatisme tersebut dituangkan dalam hal yang negatif, kata ‘menyenangkan’ dapat berubah menjadi kata ‘menyeramkan’.
Tidakkah terpikir sebagian orang menganggap supporter sepak bola itu menyeramkan? Mungkin apabila perilaku Bobotoh terus menerus seperti ini, supporter sepak bola Bandung akan lebih ditakuti masyarakat dibanding geng motor.
Anggaplah, stadion itu rumahmu ketika tim kesayanganmu bertanding. apakah kekesalan harus direalisasikan lewat lemparan? Oh tidak.
Pernahkah terpikir, dedikasi apa yang telah diberikan untuk tim pujaan hati? Ambil saja sikap sederhana yaitu menonton pertandingan dengan nyanyian dan teriakkan, itu saja. Tunjukkan pada tim kebanggaan kita, Persib, bahwa Bobotoh benar-benar “Nyunda, Nyopan dan Nyakola”.
Harapan penulis, mulai musim depan, jangan ada lempar-lemparan lagi. hayu urang robah babarengan, da jelema mah teu aya nu sampurna, tapi kenapa tidak, toh ini juga untuk kebaikan Persib juga, kebanggaan kita semua.
Penulis : Putri – Redaktur #BOTN








@ Jurig biroe 33:
hayu goblog
@ phiking:
sia tong nga cap bobotoh goreng
boa boa sia nu maledog teh
teu kabeh bobotoh kitu kehed
@ deden:
sanes nu nyusup kang, tapi memang oknum nu teu eling.
tapi sanes oknum bobotoh tapi oknum anggota suporter, da mun bobotoh mah moal mungkin ngalakukeun tindakan anu jiga kitu.
Bdak n ktu mah ngeraken persib wae..,lmun aing jd s ayi aing pdaran tah jalmi kitv teu wjes s ayi mah waduk sia gelut jeung aing die
keren opininya sangat bagus dan cerdas, tidak hanya sekedar opini tapi ada solusi dan sudut pandang penulis sangat bagus
kerennnnnnnnnnnnnnn…..pemaparannya bagus, opininya juga bagus kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
Era ku UMUR maraneh nu kampungan
tong ngajieun nu pikarugikeun tim jeung bobotoh nu sebenerna…
image bobotoh nu alus jadi ngiluan goreng gara2 maraneh oknum !!!
.