Dia pemain bagus di kesebelasannya, makanya Persib meminangnya, dan jadilah pemain Persib. Namun sayangnya tidak produktif!, maka Persib pun mengambil inisiatif untuk tidak memperpanjang kontraknya, dan jadilah dia pemain kesebalasan lain. Anehnya, dia di tim kesebelasannya yang baru, kenapa jadi produktif lagi?.
Para bobooh sadulur, barangkali paham betul apa yang dimaksud!, dia atau tepatnya mereka adalah gambaran pemain Persib, ambil saja contohnya Siswanto, Hilton Moreira, atau Cristian Gonzales, dll.
Yang jadi pertanyaanya adalah kenapa?. Rasa penasaran saya atau rasa penasaran setiap bobotoh mestilah sama, bahwa ini mestilah ada masalahnya kenapa, sulit untuk dijawab, dan memang sulit untuk dicari solusinya, karena satu-satunya untuk bisa menjawab dan mencari solusinya ialah melakukan studi analisa, yakni dilakukan interview kepada setiap pelaku di dalam tim, termasuk melihat ke dalam instrumen manajemennya.
Adalah satu hal yang luput dari telaah analisa di satu tim yang melibatkan berbagai karakter pemainnya yang notabene berasal dari luar lingkungan budaya kesukuan atau bangsa adalah budaya itu sendiri.
Ketegasan sikap kepemimpinan “urang Sunda” yang mayoritas tidak punya karakter kuat dalam kepemimpinan boleh jadi harus menjadi perhatian, ketika yang di bawahnya adalah bukan sesama “urang Sunda”.
Benar, tidak semua “urang Sunda’ tidak punya karakter kuat menjadi seorang pemimpin, tapi sekali lagi boleh saja hal ini terjadi di manajemen Persib.
Telaah lainnya adalah lingkungan, boleh jadi lingkungan membuat iklim tidak kondusif bagi para atlit pesepakbola, khususnya ketika lingkungan itu sendiri berada dalam ajang lingkungan intertain dan bisnis, dimana setiap atlit sedikit banyak mentalnya dipengaruhi lingkungan menjadi seorang intertainment atau pebisnis.
Benar, tidak semua pesepakbola Persib jadi pelaku intertain atau pebisnis, tapi sekali lagi secara psikologis bisa saja hal ini dipengaruhi oleh lingkungan tadi.
Nyatanya pernah dan sering jadi juara ketika masih jadi perserikatan, atau awal liga profesional ketika Persib masih dihuni “urang Sunda”, dan kesebalasan lainpun belum begitu merata kemapanannya. Dan saat itu pula Bandung sebagai basis tim belum se semarak menjadi pusat kota industri dagang dan hiburan seperti saat ini.
Mungkinkah..?









Punten sateuacanna bilih out of topic(OOT),tp sim kuring tertarik ka pernyataan “mayoritas urang Sunda karakter kepemimpinannya kurang kuat”,diraraoskeun mah sim kuring satuju oge,kinten2 kunaon nya Kang tiasa kabentuk karakter sapertos kitu?Bageur teuing sugan mah urang Sunda teh,alias teu tegaan sanes?hehe…punten mung hipotesis atanapi opini.
Kang.. boleh saya usul 1 hal, coba tolong sadarkan Pak Umuh tidak untuk dalam management Persib lagi. Saya lihat beberapa tindakan/keputusan ataupun manuver Pak Umuh memberikan kerugian pada Persib