AADM ?

Penulis : Ihwan Rahman Bahtiar

Melihat rekam jejaknya yang mampu membawa tim sekelas Dalian Shide dua kali menjuarai Liga dan Piala China serta satu kali Super Cup Liga China, bahkan mengantarkan klub tersebut ke perempat final Liga Champion Asia, maka saya yakin Drago Mamic adalah pelatih hebat.

Keyakinan tersebut diperkuat dengan program latihan yang dipersiapkan Mamic di awal kompetisi. Program latihan dan persiapan tim yang dirancang mantan pelatih Myanmar ini begitu menjanjikan. Betapa tidak, mulai pola makan sampai pola tidur pemain begitu ketat diawasi. Melihat sederet prestasi dan caranya menyiapkan tim, wajar jika bobotoh menaruh ekspektasi tinggi kepada Mamic untuk membawa persib juara kompetisi sepak bola tertinggi di negeri ini.

Seiring berjalannya kompetisi, keyakinan akan kehebatan Mamic berubah menjadi pertanyaan, “Ada Apa Dengan Mamic?”. Kehebatan Mamic membesut tim-tim sebelumnya nampak tak berbekas saat memoles Persib yang dihuni pemain-pemain kelas wahid. Setelah kompetisi berjalan setengah musim, kecuali saat menang 3-1 atas Pelita Jaya, bentuk permainan Persib belum terlihat menjanjikan. Persib tak sempurna main di kandang dan rontok ketika main tandang. Kemenangan dan gol merupakan hal yang cukup sulit diraih saat Persib bertanding.

Ada dua asumsi terkait sepak terjang Drago Mamic. Pertama, Mamic bukanlah pelatih hebat tetapi beruntung. Kedua, Mamic pelatih hebat yang tidak beruntung. Asumsi pertama tentu merujuk kepada karirnya saat menangani tim di China dan India yang mampu mempersembahkan tropi juara untuk Dalian Shide dan Churchill Brothers India. Saat itu mungkin Mamic sedang beruntung karena melatih tim yang tepat disaat tim pesaingnya sedang mengalami penurunan performa. Meski demikian, hal yang absurd rasanya jika seorang pelatih hanya mengandalkan keberuntungan untuk meraih juara berkali-kali.

Asumsi kedua tentu merujuk pada karirnya menangani Persib. Mamic adalah pelatih bagus, hanya saja ada beberapa faktor teknis dan non teknis yang menghambatnya memperoleh hasil terbaik di setengah musim ini. Faktor teknis yang dimaksud terkait komposisi dan adaptasi pemain. Meski kini Persib dihuni skuad timnas, tapi mengalami kekurangan pemain di sektor depan. Didepaknya Zdravko Dragicevic, tidak konsistennya penampilan Moses Sakyi, serta terlambatnya merengkut striker tamabahan Asia, saya pikir cukup berpengaruh banyak terhadap tidak maksimalnya strategi yang dijalankan.

Adapun faktor non teknis adalah faktor pengadil lapangan yang sangat merugikan Persib saat beberapa laga tandang, sebutlah saat menghadapi Mitra Kukar, Persisam, Persiwa, maupun Persipura. Keberpihakan wasit pada tuan rumah, membuyarkan konsentrasi dan menjatuhkan mental pemain, sehingga strategi malah dibalut emosi dan akhirnya merusak permainan yang dirancang.

Pandangan manajemen terhadap asumsi ini, saya pikir akan sangat mempengaruhi keputusan yang diambil terhadap masa depan Mamic. Apakah Mamic dipandang pelatih yang tidak istimewa hanya sempat beruntung dan akhirnya dikembalikan ke negaranya, atau Persib masih penasaran dengan tangan dingin Mamic saat memoles tim sebelumnya kemudian dipertahankan untuk memoles Persib.

Ihwan Rahman Bahtiar
Bobotoh biasa yang mengajar di SMK Swasta Bandung